13.4.06

Mantan Pacar Saya

Saya dan mantan pacar, disebuah toko snack, difoto oleh buah hati kami

Mantan pacar saya bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah ini, yang bersama saya di foto ini. Dia mantan pacar yang saya pacari bertahun-tahun. Dan akhirnya kini jadi istri, jadi ibunya anak saya dan kadang-kadang, ia juga menjadi kritikus saya.

Berikut ini adalah kritiknya tentang saya. Saya minta ia mendiktekannya, dan saya tulis ulang (dengan penghalusan di sana-sini. Gile, kalau gue tulis sejujur-jujurnya, wah, ketahuan deh belang gue). Begini kira-kira:

1. Suami gue itu pelupa. Sembarangan naruh apa-apa, dan akhirnya ia sendiri yang kebingungan naruhnya dimana. Dia bahkan pernah ke bank, tau-tau setelah di bank dia telpon ke rumah: "Ma, coba cek deh. Buku tabungan aku ada di meja ya? Wah, tadi kelupaan…." Suami gue malah pernah kehilangan handphone. Karena ketinggalan pas waktu dia masuk ke toilet umum di stasiun kereta.

2. Suami gue itu suka melamun. Di jalan, kadang-kadang gue ngobrol gitu, eh pikirannya entah kemana. Yang paling sering dia pikirin adalah ide-ide buat ditulis. Entah untuk pekerjaannya sebagai kuli tinta, entah untuk blognya.

3. Norak. Suami gue itu norak banget. Suka malu-maluin. Kalau hari Sabtu gue ajak ke supermarket, wah, itu adalah hari dia paling males-malesan. Dia sih mau nemenin, tapi ya gitu deh. Gak pake mandi. Gak pake cuci muka. Gak pake ganti baju. Begitu aja pakai celana pendek dan kaos oblong. Wuih, bau badannya minta ampun….

4. Cengeng. Suami gue paling gampang nangis (diam-diam) kalau ngelihat yang buat dia mengharukan. Pernah ada anak kecil menangis di gereja, karena acara perayaan Natal Sekolah Minggunya lama baru dimulai. Anak itu nangis sekencang-kencangnya, mungkin karena kelaparan. Dan ibunya, karena begitu kesalnya, marah pula sama itu anak. Suami gue air matanya meleleh. Dan dia cepat-cepat pergi keluar.

5. Gampang panik. Ini terutama kalau putri kami sakit. Dia pasti gelisah ke sana kemari. Sebentar-bentar suruh gue ngukur panasnya pake termometer. Kalau ke dokter, dia nggak mau ikut masuk ke ruang dokter. Beraninya cuma nunggu di luar. Kalau nggak sembuh dua hari, panik lagi. Cari dokter lain lagi. Wah, ribet.

6. Mudah tergoda rayuan sesama Batak. Dia itu paling gampang deh dirayu-rayu oleh orang yang ngaku-ngaku orang Batak yang sedang kehabisan duit. Sudah beberapa kali orang Batak datang ke rumah atau ke kantornya. Dia sendiri gak kenal. Tapi entah kenapa, dia selalu mudah kasihan. Apalagi kalau alasannya karena sakit. Gak punya ongkos pulang. Wah, gue sering naik darah kalau dia sudah coba buka-buka dompetnya. Kadang, di dompetnya cuma ada Rp50 ribuan. Trus dikasih kan lagi. Kalau sudah begitu, gue pasti ngomel. Untung dia langsung diam aja. Kenapa ya dia begitu? Selalu dia jawab: gue juga dulu begitu. Sering minta-minta duit ke sesama Batak rantau.

7. Kalau masak, bikin repot seisi rumah. Suami gue samasekali gak tau masak. Tapi dia sering merasa sudah bisa masak, cuma gara-gara baca resep di tabloid atau lihat orang masak di televisi. Nah, kalau dia sudah mulai masak, pasti bikin repot seisi rumah. 'Ma, mana kecap.' 'Mbak, mana tomat.' 'Ini kompor gimana ngegedeinnya.' Dan ketika masakannya sudah terhidang, kayaknya cuma dia deh yang doyan. Dan celakanya, potongan-potongan sayur, botol kecap yang terbuka, pisau di atas meja, semuanya berantakan nggak ketulungan.

8. Paling cepat naik pitam kalau ke kantor Pemerintah. Gue jarang ngajak dia kalau berurusan dengan kantor Pemerintah. Tapi kalau gue udah nyerah, pasti lah gue ngadu ke dia. Dan gue udah harus siap-siap. Sebab, dia pasti marah-marah deh di sana. Pernah sekali waktu, gue mau ngurus KTP. Lamaaaa baru kelar. Eh, pas sama dia, dia datangi kelurahannya. Lurahnya gak ada di tempat. Trus dia bilang, kapan ada di tempat. Gak ada yang tau. Dia tungguin sampai lurahnya datang. Setelah itu dia bilang, Pak KTP istri saya kapan selesainya. Lurahnya ngelantur kesana kemari. Eh, suami gue bilang. Kita gak butuh dengar cerita macam-macam. Yang penting kapan selesainya. Dua hari? Dua bulan? Setahun? Itu yang penting. Kita siap menunggu, kata dia. Eh, manjur lho. Untuk satu hal ini, gue salut, meskipun sering deg-degan. Prinsip dia, gak boleh kasih duit, kalau tujuannya untuk mempercepat proses. Tapi kalau urusan kita udah beres, boleh kasih duit. Itu untuk ucapan terimakasih. Samasekali bukan buat nyogok biar urusan kita selesai. Kan, emang itu sudah tugas dia, kan?

9. Manja. Terutama kalo dia lagi sakit. Wah, manjanya bukan main. Gue gak boleh jauh-jauh dari dia. Sebentar-sebentar, 'bikin minum dong.' Sebentar lagi, 'kayaknya kalau gue dipijit, enah deh.' Gak lama lagi, 'udah jam brapa nih. Kok panas gue gak turun-turun ya? Coba, gue dikompres.' Wah, lebih repot ngurusin dia dibanding anak gue, kalo dia lagi sakit.

10. Gak bisa bilang gak sama Papa dan Mamanya. Pokoknya, kalau Mamanya bilang apa, dia pasti nurut deh. Biar pun di belakangnya dia bersungut-sungut, tapi dia pasti gak nolak. Makanya, kalau gue pengen sesuatu dan dia gak nurutin, gue sering ambil jalan 'melingkar.' Ngadu dulu sama Ibu Mertua. Hehehe.



Begitulah istri saya, melihat saya dari sisi yang paling dia tidak sukai. Dan sewaktu dia melihat 10 hal di atas, istri saya bilang begini, "Heran, kok gue bisa kawin sama lu ya?"

Sialan.

Kendati sudah babak-belur kena kritik begitu, yang menghibur saya adalah ketika dia bilang begini. "Gue udah baca banyak tulisan tentang orang-orang yang gue suka. Harrison Ford. Cok Simbara. Juwono Sudarsono. Dan semua istri-istri mereka punya segudang kritik juga terhadap mereka. Jadi lu jangan khawatir. Makin panjang gue mengeritik lu, itu tandanya gue makin tahu lipatan terdalam hidup lu."

Ehm. Itu penghiburan atau pujian, ya?

Mar'ie Muhammad pernah bilang, entah mengutip ucapan siapa, bahwa istri adalah ibarat buku yang tak pernah selesai kita baca. Mudah-mudahan, bukan hanya istri. Tetapi suami seperti saya juga adalah buku yang tak pernah selesai dibaca dan ingin di baca terus oleh istrinya.



13 April 2006