19.5.06

A Trip to the Past

Saya bersemedi ala patung di candi Borobudur. Itu blangkon sudah dua hari bertengger di kepala saya....
Gara-gara flu dan batuk yang tak tertahankan, selama dua hari saya tergeletak di tempat tidur, Sabtu-Minggu, 13 dan 14 Mei 2006 lalu. Sebelumnya sudah seminggu saya merasa lemas, hidung mampet dan batuk kering yang berisik. Saya tahu obat untuk hal semacam ini adalah istirahat. Tapi tak bisa, karena pekerjaan kantor terus saja menunggu. Barulah Sabtu-Minggu itu saya bisa total meninggalkan kantor. Dan, ternyata tidak terlalu membosankan. Selain karena ada putri semata wayang, Amartya Siadari, yang gembira luar biasa sebentar-sebentar bisa menodong saya untuk membeli jajanan apa saja yang terlintas di pikirannya, juga ada sebuah buku yang sudah sangat lama saya ingin baca secara khusus. Buku tentang sejarah Simalungun karya Dr. Martin Sinaga STh.

Namun, yang paling menarik dari berada di rumah selama 48 jam penuh, adalah menikmati perjalanan ke masa lampau. Melihat-lihat album foto masa lalu. Sambil menjelaskannya kepada putri saya yang bertanya tak henti-hentinya, terutama karena menurut dia, wajah saya culun betul di foto-foto itu. Maafkan saya kalau tampilan foto-foto itu di blog ini kurang bagus. Maklum lah, hasil reproduksi dan dengan memakai kamera handphone pula.

Duduk di lantai di ruang TV asrama mahasiswa Wisma Sejahtera di Bandung. Saya duduk di depan tengah, berjaket hijau Di Ruang TV Asrama. Di asrama kami di Wisma Sejahtera Bandung dulu ada yang disebut ruang TV. Sebenarnya ia adalah ruang tamu. Tetapi karena satu-satunya televisi yang ada di sana diletakkan di sana, jadilah ia ruang TV namanya. Ruang itu kami gunakan, antara lain, untuk kebaktian sore, menerima tamu dan menonton televisi. Foto ini adalah ketika kami merayakan lulusnya salah seorang penghuni, yang kebetulan sudah berkeluarga dan ke Bandung dalam rangka tugas belajar. Kami merayakannya dengan makan bersama di asrama, seusai kebaktian. Istri sahabat kami itu datang dari Toraja, sehingga kami tambah bergembira menyambutnya. Ini lah pose kami sehabis perayaan sederhana itu. Saya duduk di barisan depan, di tengah, berjaket hijau.

Kasur bau yang saya tiduri ini entah sudah berapa tahun tak pernah dicuci. Saya melihat arloji, menjelang tidur.Tidur di Kantor. Kalau tak salah, foto ini adalah di awal-awal karier saya bekerja sebagai wartawan di majalah WartaEkonomi. Kira-kira tahun 1991. Saya sering kali menginap di kantor. Ada kasur yang sudah tua dan bau. Kasur itu lantas di taruh di atas meja besar yang ada di perpustakaan. AC ruangan itu tak pernah berhenti dinyalakan. Sering kali kami tidur dua-tiga orang di sana (tentu laki-laki semua), sambil bicara apa saja tentang negara ini, tentang liputan esok hari dan tentu juga tentang si dia yang sedang kita taksir. Malam seringkali kita rasakan terlalu cepat. Sebab tiba-tiba saja pagi sudah datang dan Office Boy sudah pula siap-siap akan membereskan tempat tidur kita.

Halo...halo.... kami dicegat tentara nih...Menelepon dari Serang. Salah satu tugas liputan yang tak pernah saya lupakan adalah melakukan investigasi ke Serang. Tidak ingat tahunnya persis. Mungkin sekitar tahun 1993. Ketika itu di sebuah pabrik kertas dan pulp di sana, dikabarkan banyak sekali tenaga kerja dari China. Dan itu bikin heboh. Saya dan seorang fotografer bertanggung jawab untuk meliput dan menuliskannya sebagai cerita sampul.

Dari Jakarta kami naik motor sore hari dan tiba di sana malam hari. Mencari penginapan murah lantas menyelinap di warung-warung pecal lele di sekitar pabrik untuk mencari informasi. Kami sudah tiba di depan gerbang pabrik itu ketika kami dicegat oleh seorang tentara berpakaian preman. Kami diinterogasi dan pokoknya kami tak boleh berkeliaran di sekitar pabrik. Foto saya ini adalah ketika menelepon ke kantor untuk mengabarkan perkembangan liputan kami. Kala itu kami pulang dengan 'tangan hampa' menurut ukuran para bos. Namun, yang mengejutkan liputan kami tentang tenaga kerja di pabrik itu justru leading, mendahului majalah-majalah lain. Kawan-kawan bahkan memberikan salut kepada upaya kami menerobos pabrik itu.

Budiana, wartawan Pikiran Rakyat (kiri) dan saya di depan hotel Llety CymroDi depan Hotel Llety Cymro. Llety Cymro adalah nama sebuah hotel merangkap rumah di Cardiff, Wales, Inggris. Di sini lah saya tinggal bersama dua orang rekan dari Indonesia selama kami mengikuti pendidikan jurnalistik di sana. Kamar saya di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Gde, orang Bali yang kini bekerja di Reuters. Budiana, wartawan harian Pikiran Rakyat, yang berfoto bersama saya di sini, kamarnya di lantai tiga.

Pemilik hotel ini adalah Glenn Jones bersama istrinya, Gwenda. Keduanya seperti orangtua bagi kami. Glenn di hari Minggu membawa kami berjalan-jalan, termasuk menyaksikan dia bermain flute, untuk konser di televisi lokal di sebuah gereja tua di kota kecil St. David. Gwenda sering memasakkan kami masakan Inggris yang kami kurang suka. Mungkin karena terbujuk provokasi kami, setahun setelah kami meninggalkan Inggris, mereka memutuskan tamasya ke Indonesia. Dan mereka mengunjungi Bali.

Saya bediri kedua dari kiri di depan sekolah kami, Thomson Foundation di Cardiff. Rambut saya sudah panjangDi depan Thomson Foundation. Thomson Foundation adalah tempat kami belajar jurnalisme di Inggris. Lembaga ini didirikan dan didanai oleh Lord Thomson, taipan pers di Inggris yang terkenal terutama di negara-negara persemakmuran. Sudah tak terhitung wartawan dari negara sedang berkembang mendapat pendidikan di sini.Saya berdiri paling kiri.

Dari kiri: saya, Lela Madjiah dan Rizal Sukma di depan eks ruang kerja pengarang kesohor, Charles DickensDi depan Ruang Kerja Charles Dickens. Dalam suatu perjalanan ke London, Lela Madjiah, wartawan The Jakarta Post mendesak-desak saya supaya ikut bersamanya berfoto. Soalnya kami kala itu, berada di lingkungan kampus London School of Economics and Political Science. Dan menurut dia, kami sedang berada persis di bekas kamar kerja Charles Dickens, pengarang terkenal. Saya sih, dasar anak udik, tak terlalu kenal-kenal banget siapa itu Dickens. Tapi untuk tak mengecewakannya, saya ikut lah. Saya berada paling kiri, Lela dan Rizal Sukma, sekarang salah seorang direktur di CSIS. Ketika itu, dia sedang studi doktoral di London School of Economics and Political Science, di London.

Saya sebenarnya bukan tak mau berfoto di lingkungan itu, tetapi yang saya paling inginkan bukan di depan bekas kamarnya Dickens, melainkan di depan bekas kamarnya John Maynard Keynes. Soalnya, ketika kuliah dulu setiap kali belajar teori ekonomi makro, pasti tak pernah sekali pun tak menyinggung nama Keynes, ekonom yang kesohor itu. Foto saya di depan eks kamar Keynes, sayangnya, saya tidak tahu dimana lagi. Juga foto saya di depan eks kamar kerjanya Karl Marx.


Saya sedang enunggu angkutan kota di Semarang ketika jadi turis lokal terlunta-lunta Turis Lokal. Karena terlalu lama jadi jomblo, untuk menghabiskan waktu, saya dan seorang rekan akrab bekas kawan seasrama suatu kali pergi keliling Jawa Tengah. Dari Jakarta kami naik kereta api kelas ekonomi yang di setiap stasiun berhenti itu. Wadduh, pokoknya sehari semalam deh.

Di Semarang, seperti di foto ini, kami membeli blangkon dan memakainya. Kata teman saya, saya persis seperti seorang turis lokal yang kehabisan uang, dan tak tahu mau kemana. Tidak apa-apa. Habis, ketimbang suntuk di kamar kost di Jakarta?

Meniru Patung di Candi Borobudur. Kami berdua juga kemudian mengunjungi Candi Borobudur. Saya berlagak seperti patung di sini. Selain ke Candi Borobudur, kami juga ke Candi Prambanan kala itu. Dan malah ada tempat buat kita memberi semacam sesajian lantas mengucapkan dalam hati apa yang jadi cita-cita kita. Saya lupa apa yang saya bisikkan kala itu. Kelihatannya tak penting-penting betul.

Selamat pagi...eh, selamat sore....ketika pertama kali jadi moderator sebuah diskusi Pembicara Seminar.Ini, seingat saya, adalah foto ketika pertama kalinya saya menjadi moderator, membawakan sebuah seminar tentang pajak. Di samping kiri saya adalah Anton J. Supit, seorang pengusaha. Di samping kanan saya, pejabat dari Ditjen Pajak. Seingat saya, agak grogi juga saya pada tugas pertama kali itu. Sampai-sampai saya mengucapkan "Selamat Pagi" pada kata pembuka, padahal seminar itu sore hari. Untung, sampai akhir acara, semuanya berjalan mulus. Dan saya mendapat applaus. Plus honor, tentu.

***
Melihat ke masa lalu seperti ini, sambil ditemani putri semata wayang, serta sesekali diselingi celoteh sengak dari sang istri, saya akhirnya mengerti mengapa dulu di cerita-cerita Alkitab sering disebutkan bahwa Tuhan kerap mendatangkan penyakit kepada suatu bangsa.

Saya kira sakit yang saya alami jangan-jangan datangnya dari Tuhan. Atau setidaknya Tuhan membiarkan saya sakit. Dengan begitu, saya punya waktu istirahat. Lantas merenung, betapa berartinya hidup. Dan betapa berartinya kesehatan. Lebih berarti lagi jika dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai. Maka, betul juga lah jika masa-masa sakit adalah masa melihat lagi 'rapor hidup' kita.

Yah, mudah-mudahan rapor saya tidak jelek-jelek betul.

19 Mei 2006

13.4.06

Mantan Pacar Saya

Saya dan mantan pacar, disebuah toko snack, difoto oleh buah hati kami

Mantan pacar saya bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah ini, yang bersama saya di foto ini. Dia mantan pacar yang saya pacari bertahun-tahun. Dan akhirnya kini jadi istri, jadi ibunya anak saya dan kadang-kadang, ia juga menjadi kritikus saya.

Berikut ini adalah kritiknya tentang saya. Saya minta ia mendiktekannya, dan saya tulis ulang (dengan penghalusan di sana-sini. Gile, kalau gue tulis sejujur-jujurnya, wah, ketahuan deh belang gue). Begini kira-kira:

1. Suami gue itu pelupa. Sembarangan naruh apa-apa, dan akhirnya ia sendiri yang kebingungan naruhnya dimana. Dia bahkan pernah ke bank, tau-tau setelah di bank dia telpon ke rumah: "Ma, coba cek deh. Buku tabungan aku ada di meja ya? Wah, tadi kelupaan…." Suami gue malah pernah kehilangan handphone. Karena ketinggalan pas waktu dia masuk ke toilet umum di stasiun kereta.

2. Suami gue itu suka melamun. Di jalan, kadang-kadang gue ngobrol gitu, eh pikirannya entah kemana. Yang paling sering dia pikirin adalah ide-ide buat ditulis. Entah untuk pekerjaannya sebagai kuli tinta, entah untuk blognya.

3. Norak. Suami gue itu norak banget. Suka malu-maluin. Kalau hari Sabtu gue ajak ke supermarket, wah, itu adalah hari dia paling males-malesan. Dia sih mau nemenin, tapi ya gitu deh. Gak pake mandi. Gak pake cuci muka. Gak pake ganti baju. Begitu aja pakai celana pendek dan kaos oblong. Wuih, bau badannya minta ampun….

4. Cengeng. Suami gue paling gampang nangis (diam-diam) kalau ngelihat yang buat dia mengharukan. Pernah ada anak kecil menangis di gereja, karena acara perayaan Natal Sekolah Minggunya lama baru dimulai. Anak itu nangis sekencang-kencangnya, mungkin karena kelaparan. Dan ibunya, karena begitu kesalnya, marah pula sama itu anak. Suami gue air matanya meleleh. Dan dia cepat-cepat pergi keluar.

5. Gampang panik. Ini terutama kalau putri kami sakit. Dia pasti gelisah ke sana kemari. Sebentar-bentar suruh gue ngukur panasnya pake termometer. Kalau ke dokter, dia nggak mau ikut masuk ke ruang dokter. Beraninya cuma nunggu di luar. Kalau nggak sembuh dua hari, panik lagi. Cari dokter lain lagi. Wah, ribet.

6. Mudah tergoda rayuan sesama Batak. Dia itu paling gampang deh dirayu-rayu oleh orang yang ngaku-ngaku orang Batak yang sedang kehabisan duit. Sudah beberapa kali orang Batak datang ke rumah atau ke kantornya. Dia sendiri gak kenal. Tapi entah kenapa, dia selalu mudah kasihan. Apalagi kalau alasannya karena sakit. Gak punya ongkos pulang. Wah, gue sering naik darah kalau dia sudah coba buka-buka dompetnya. Kadang, di dompetnya cuma ada Rp50 ribuan. Trus dikasih kan lagi. Kalau sudah begitu, gue pasti ngomel. Untung dia langsung diam aja. Kenapa ya dia begitu? Selalu dia jawab: gue juga dulu begitu. Sering minta-minta duit ke sesama Batak rantau.

7. Kalau masak, bikin repot seisi rumah. Suami gue samasekali gak tau masak. Tapi dia sering merasa sudah bisa masak, cuma gara-gara baca resep di tabloid atau lihat orang masak di televisi. Nah, kalau dia sudah mulai masak, pasti bikin repot seisi rumah. 'Ma, mana kecap.' 'Mbak, mana tomat.' 'Ini kompor gimana ngegedeinnya.' Dan ketika masakannya sudah terhidang, kayaknya cuma dia deh yang doyan. Dan celakanya, potongan-potongan sayur, botol kecap yang terbuka, pisau di atas meja, semuanya berantakan nggak ketulungan.

8. Paling cepat naik pitam kalau ke kantor Pemerintah. Gue jarang ngajak dia kalau berurusan dengan kantor Pemerintah. Tapi kalau gue udah nyerah, pasti lah gue ngadu ke dia. Dan gue udah harus siap-siap. Sebab, dia pasti marah-marah deh di sana. Pernah sekali waktu, gue mau ngurus KTP. Lamaaaa baru kelar. Eh, pas sama dia, dia datangi kelurahannya. Lurahnya gak ada di tempat. Trus dia bilang, kapan ada di tempat. Gak ada yang tau. Dia tungguin sampai lurahnya datang. Setelah itu dia bilang, Pak KTP istri saya kapan selesainya. Lurahnya ngelantur kesana kemari. Eh, suami gue bilang. Kita gak butuh dengar cerita macam-macam. Yang penting kapan selesainya. Dua hari? Dua bulan? Setahun? Itu yang penting. Kita siap menunggu, kata dia. Eh, manjur lho. Untuk satu hal ini, gue salut, meskipun sering deg-degan. Prinsip dia, gak boleh kasih duit, kalau tujuannya untuk mempercepat proses. Tapi kalau urusan kita udah beres, boleh kasih duit. Itu untuk ucapan terimakasih. Samasekali bukan buat nyogok biar urusan kita selesai. Kan, emang itu sudah tugas dia, kan?

9. Manja. Terutama kalo dia lagi sakit. Wah, manjanya bukan main. Gue gak boleh jauh-jauh dari dia. Sebentar-sebentar, 'bikin minum dong.' Sebentar lagi, 'kayaknya kalau gue dipijit, enah deh.' Gak lama lagi, 'udah jam brapa nih. Kok panas gue gak turun-turun ya? Coba, gue dikompres.' Wah, lebih repot ngurusin dia dibanding anak gue, kalo dia lagi sakit.

10. Gak bisa bilang gak sama Papa dan Mamanya. Pokoknya, kalau Mamanya bilang apa, dia pasti nurut deh. Biar pun di belakangnya dia bersungut-sungut, tapi dia pasti gak nolak. Makanya, kalau gue pengen sesuatu dan dia gak nurutin, gue sering ambil jalan 'melingkar.' Ngadu dulu sama Ibu Mertua. Hehehe.



Begitulah istri saya, melihat saya dari sisi yang paling dia tidak sukai. Dan sewaktu dia melihat 10 hal di atas, istri saya bilang begini, "Heran, kok gue bisa kawin sama lu ya?"

Sialan.

Kendati sudah babak-belur kena kritik begitu, yang menghibur saya adalah ketika dia bilang begini. "Gue udah baca banyak tulisan tentang orang-orang yang gue suka. Harrison Ford. Cok Simbara. Juwono Sudarsono. Dan semua istri-istri mereka punya segudang kritik juga terhadap mereka. Jadi lu jangan khawatir. Makin panjang gue mengeritik lu, itu tandanya gue makin tahu lipatan terdalam hidup lu."

Ehm. Itu penghiburan atau pujian, ya?

Mar'ie Muhammad pernah bilang, entah mengutip ucapan siapa, bahwa istri adalah ibarat buku yang tak pernah selesai kita baca. Mudah-mudahan, bukan hanya istri. Tetapi suami seperti saya juga adalah buku yang tak pernah selesai dibaca dan ingin di baca terus oleh istrinya.



13 April 2006

10.12.05

A Little Bit About Me


Di surat baptis, nama saya panjang sekali. Martuah Eben Ezer Siadari. Tetapi di sekolah nama saya jadi lebih pendek: Eben Ezer Siadari.

Ibu melahirkan saya pada 27 Juli 1966. Tentu saya tak bisa ingat seperti apa wajah saya waktu bayi. Tidak ada foto yang bisa dijadikan acuan. Tetapi menurut ibu, saya sangat dimanja. Maklum, baru setelah empat tahun menikah ibu bisa mengandung dan kemudian melahirkan. Keluarga besar dari Ibu dan Ayah, merayakannya demikian gembira. Saya tambah dimanja lagi. Apalagi rumah kakek (oppung) dari pihak Ibu tidak jauh dari rumah kami. Dan sejak saya lahir, kakek dari pihak ayah memutuskan pensiun sebagai karyawan perkebunan. Ia pun tinggal di rumah kami sejak itu, sampai ujung hayatnya.


Rumah tempat saya lahir, saya masih ingat, berada di dekat lapangan sepak bola di Sarimatondang. Kini rumah itu sudah jadi milik orang lain. Kami pindah ke rumah yang bersebelahan dengan rumah kakek. Saya tambah dimanja. Semua tulang (om), tante dan namboru (adik perempuan ayah) sangat ringan tangan membereskan semua hal demi saya, si bocah yang lama ditunggu-tunggu.

Tetapi kemanjaan itu hanya sebentar. Setelah itu, berderet-deret adik saya lahir. Jumlah keseluruhan kami kakak-beradik enam orang. Tetapi adik perempuan persis di bawah saya, meninggal di usia belia. Ia masih kuliah di tahun kedua di USU ketika penyakit jantung koronernya tak bisa lagi diobati. Tak pernah sedetik pun saya melupakan dia. Sampai sekarang.


Waktu kecil saya sudah senang menulis. Menulis apa saja. Mulanya karena gemar menulis yang benar-benar menulis. Saya menyenangi tulisan yang cantik. Huruf-huruf yang berjejer rapih, tulisan halus-kasar, sangat saya sukai. Karena ingin mempraktikkan tulisan yang bagus dan cantik itu lah saya menulis apa saja. Saya menulis nama-nama kawan-kawan. Saya menulis orang-orang yang saya suka. Saya pun menulis orang yang tidak saya sukai. Misalnya, karena ia pernah mencorat-coret buku pelajaran saya.

Lambat laun, saya senang pelajaran mengarang. Dan, ketika pada kelas lima SD, guru kami mengajar apa yang dimaksud sebagai sajak. Saya masih ingat, prinsip sederhana yang ia ajarkan adalah sajak itu merupakan persamaan bunyi di akhir kalimat. Sejak itu, saya mati-matian menulis sajak. Bahkan demi mengejar persamaan bunyi di akhir kalimat, saya sering tak bisa tidur untuk mencari kata yang tepat. Misalnya, saya pernah sehari-semalam tidak nafsu makan demi sebuah sajak berikut ini. (Waktu itu, saya rindu sekali kepada Ibu. Tetapi Ibu masih menyimpan marah karena saya memecahkan kaca lampu teplok).

Jangan Marah Bu

Air mengalir ke hilir dari hulu
Seperti kasihmu Ibu
Seperti rinduku padamu
Maafkanlah aku

Tapi sajak yang paling saya hafal luar kepala bukan lah sajak pertama saya itu. Saya justru mengagumi karya Chairil Anwar, yang saya sendiri sebenarnya tak mengerti apa isinya.

Hidup hanyalah menunda kekalahan
Makin jauh dari cinta sekolah rendah
Dan tahu ada yang tak pernah diucapkan
Sebelum akhirnya kita menyerah

Dunia menulis itu agak terlupa ketika saya harus melanjutkan SMA ke Jakarta. Di Jakarta saya menemukan dunia yang lain. Semua orang berfikir, nanti kalau sudah besar jadi apa. Dan, saya akhirnya memutuskan masuk Fakultas Ekonomi UNPAD. Om saya bilang, masuk di Fakultas itu akan cepat mendapat kerja. Tapi di otak saya tersimpan cita-cita tersembunyi. Kayaknya enak juga ya, jadi ahli ekonomi. Bisa menulis buku. Bisa mendapat hadiah Nobel.

Ternyata Ilmu Ekonomi itu rumit. Harus pintar Matematika. Juga harus bisa baca neraca. Dan, setelah lulus, akhirnya saya terperangkap jadi wartawan. Semula saya berpikir, dunia jurnalistik akan membuka mata saya mengenai ekonomi, sambil menulis tentang ekonomi. Siapa tahu ini awal untuk meraih hadiah Nobel itu.

Salah. Jurnalisme itu seperti racun. Dan, salah satunya adalah ketika Pemerintah Inggris memberi beasiswa untuk studi di negeri itu tentang jurnalisme praktis. Semangat saya untuk jadi wartawan begitu menggebu-gebu. Dan saya menulis terus.

Juga ketika saya mendapatkan beasiswa dari Pemerintah AS mengikuti International Visitor Leader Program, saya tambah terbius. Selama sebulan mengelilingi negeri itu, bertemu dengan banyak orang dan banyak wartawan. Bertemu dengan orang-orang dari Serikat Buruh. Bertemu dengan tokoh kulit hitam. Uh, alangkah nikmat menjadi pendengar untuk kemudian menuliskannya. Itu pikiran saya. Sayang, itu semua tak sempat saya tuliskan sebagai catatan pribadi. Kecuali satu dua tulisan yang kemudian dimuat oleh majalah tempat saya bekerja.

Begitulah. Dunia menulis agaknya sudah jadi candu. Candu yang baik, karena dengan mencandu pada pekerjaan, akhirnya dapur bisa ngebul. Sampai kini, sudah 15 tahun lebih. Terus menulis, terus menjadi wartawan. Sampai pernah menjadi redaktur pelaksana, kata lain dari orang yang menjadi sasaran kemarahan apabila ada berita penting yang terlewat. Sampai menjadi pemimpin redaksi, sebutan lain bagi orang yang pertama kali mendapat somasi apabila ada kesalahan pemberitaan.

Majalah WartaEkonomi adalah tempat saya memulai karier sebagai wartawan. Lebih dari 11 tahun. Lalu jadi pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita. Sambil terbenam dikejar deadline, kadang-kadang saya menyunting buku. Diantaranya adalah Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997) dan

The Power of Value in the Uncertain Business World, Refleksi Herris B. Simanjuntak (2004)
Bersama Andrias Harefa, saya menulis buku (judul masih tentatif) Menjadi Entrepreneur Sejati, the Ciputra Way yang segera terbit

Juga kadang-kadang saya berdiri di depan para PR officer, untuk berceloteh tentang jurnalisme. Ini karena Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI mencatat saya sebagai salah seorang associate mereka.

Kalau lagi santai, saya menghabiskan waktu bersama istri dan putri semata wayang berburu makanan etnik di sekitar tempat kami tinggal, di Vila Dago Tol Ciputat. Apa saja, yang penting murah dan pelayannya ramah.

Di kala seperti itu, di kala ada waktu berpikir, saya kerap merenung, kemana kelak semua apa yang pernah saya alami, yang indah dan yang pahit? Siapa yang akan mengabadikannya dan siapa yang akan menuliskannya? Anak saya sebelum tidur, selalu meminta saya mendongeng. Dan suatu kali saya bercerita tentang masa kecil di kampung halaman. Dia senang. Bahkan setelah itu, ia tak mau diceritai dongeng, melainkan hanya dan hanya tentang masa kecil saya di Sarimatondang.

Saya kira itu lah awal munculnya blog ini. Sarimatondang adalah yang terpikir pertama kali ketika saya ingin melukiskan apa yang selalu menjadi pengisi terdalam dari pikiran-pikiran saya. Sarimatondang begitu banyak memberi bekal. Dan semestinya itu dapat saya bagikan. Paling tidak buat putri saya di rumah. Kelak, ia tak perlu kesulitan mencari kampung halaman ayahnya. Yang mungkin masih akan lama lagi baru ada di peta.

Ini lah sepotong cerita tentang saya. Membosankan bukan?