10.12.05

A Little Bit About Me


Di surat baptis, nama saya panjang sekali. Martuah Eben Ezer Siadari. Tetapi di sekolah nama saya jadi lebih pendek: Eben Ezer Siadari.

Ibu melahirkan saya pada 27 Juli 1966. Tentu saya tak bisa ingat seperti apa wajah saya waktu bayi. Tidak ada foto yang bisa dijadikan acuan. Tetapi menurut ibu, saya sangat dimanja. Maklum, baru setelah empat tahun menikah ibu bisa mengandung dan kemudian melahirkan. Keluarga besar dari Ibu dan Ayah, merayakannya demikian gembira. Saya tambah dimanja lagi. Apalagi rumah kakek (oppung) dari pihak Ibu tidak jauh dari rumah kami. Dan sejak saya lahir, kakek dari pihak ayah memutuskan pensiun sebagai karyawan perkebunan. Ia pun tinggal di rumah kami sejak itu, sampai ujung hayatnya.


Rumah tempat saya lahir, saya masih ingat, berada di dekat lapangan sepak bola di Sarimatondang. Kini rumah itu sudah jadi milik orang lain. Kami pindah ke rumah yang bersebelahan dengan rumah kakek. Saya tambah dimanja. Semua tulang (om), tante dan namboru (adik perempuan ayah) sangat ringan tangan membereskan semua hal demi saya, si bocah yang lama ditunggu-tunggu.

Tetapi kemanjaan itu hanya sebentar. Setelah itu, berderet-deret adik saya lahir. Jumlah keseluruhan kami kakak-beradik enam orang. Tetapi adik perempuan persis di bawah saya, meninggal di usia belia. Ia masih kuliah di tahun kedua di USU ketika penyakit jantung koronernya tak bisa lagi diobati. Tak pernah sedetik pun saya melupakan dia. Sampai sekarang.


Waktu kecil saya sudah senang menulis. Menulis apa saja. Mulanya karena gemar menulis yang benar-benar menulis. Saya menyenangi tulisan yang cantik. Huruf-huruf yang berjejer rapih, tulisan halus-kasar, sangat saya sukai. Karena ingin mempraktikkan tulisan yang bagus dan cantik itu lah saya menulis apa saja. Saya menulis nama-nama kawan-kawan. Saya menulis orang-orang yang saya suka. Saya pun menulis orang yang tidak saya sukai. Misalnya, karena ia pernah mencorat-coret buku pelajaran saya.

Lambat laun, saya senang pelajaran mengarang. Dan, ketika pada kelas lima SD, guru kami mengajar apa yang dimaksud sebagai sajak. Saya masih ingat, prinsip sederhana yang ia ajarkan adalah sajak itu merupakan persamaan bunyi di akhir kalimat. Sejak itu, saya mati-matian menulis sajak. Bahkan demi mengejar persamaan bunyi di akhir kalimat, saya sering tak bisa tidur untuk mencari kata yang tepat. Misalnya, saya pernah sehari-semalam tidak nafsu makan demi sebuah sajak berikut ini. (Waktu itu, saya rindu sekali kepada Ibu. Tetapi Ibu masih menyimpan marah karena saya memecahkan kaca lampu teplok).

Jangan Marah Bu

Air mengalir ke hilir dari hulu
Seperti kasihmu Ibu
Seperti rinduku padamu
Maafkanlah aku

Tapi sajak yang paling saya hafal luar kepala bukan lah sajak pertama saya itu. Saya justru mengagumi karya Chairil Anwar, yang saya sendiri sebenarnya tak mengerti apa isinya.

Hidup hanyalah menunda kekalahan
Makin jauh dari cinta sekolah rendah
Dan tahu ada yang tak pernah diucapkan
Sebelum akhirnya kita menyerah

Dunia menulis itu agak terlupa ketika saya harus melanjutkan SMA ke Jakarta. Di Jakarta saya menemukan dunia yang lain. Semua orang berfikir, nanti kalau sudah besar jadi apa. Dan, saya akhirnya memutuskan masuk Fakultas Ekonomi UNPAD. Om saya bilang, masuk di Fakultas itu akan cepat mendapat kerja. Tapi di otak saya tersimpan cita-cita tersembunyi. Kayaknya enak juga ya, jadi ahli ekonomi. Bisa menulis buku. Bisa mendapat hadiah Nobel.

Ternyata Ilmu Ekonomi itu rumit. Harus pintar Matematika. Juga harus bisa baca neraca. Dan, setelah lulus, akhirnya saya terperangkap jadi wartawan. Semula saya berpikir, dunia jurnalistik akan membuka mata saya mengenai ekonomi, sambil menulis tentang ekonomi. Siapa tahu ini awal untuk meraih hadiah Nobel itu.

Salah. Jurnalisme itu seperti racun. Dan, salah satunya adalah ketika Pemerintah Inggris memberi beasiswa untuk studi di negeri itu tentang jurnalisme praktis. Semangat saya untuk jadi wartawan begitu menggebu-gebu. Dan saya menulis terus.

Juga ketika saya mendapatkan beasiswa dari Pemerintah AS mengikuti International Visitor Leader Program, saya tambah terbius. Selama sebulan mengelilingi negeri itu, bertemu dengan banyak orang dan banyak wartawan. Bertemu dengan orang-orang dari Serikat Buruh. Bertemu dengan tokoh kulit hitam. Uh, alangkah nikmat menjadi pendengar untuk kemudian menuliskannya. Itu pikiran saya. Sayang, itu semua tak sempat saya tuliskan sebagai catatan pribadi. Kecuali satu dua tulisan yang kemudian dimuat oleh majalah tempat saya bekerja.

Begitulah. Dunia menulis agaknya sudah jadi candu. Candu yang baik, karena dengan mencandu pada pekerjaan, akhirnya dapur bisa ngebul. Sampai kini, sudah 15 tahun lebih. Terus menulis, terus menjadi wartawan. Sampai pernah menjadi redaktur pelaksana, kata lain dari orang yang menjadi sasaran kemarahan apabila ada berita penting yang terlewat. Sampai menjadi pemimpin redaksi, sebutan lain bagi orang yang pertama kali mendapat somasi apabila ada kesalahan pemberitaan.

Majalah WartaEkonomi adalah tempat saya memulai karier sebagai wartawan. Lebih dari 11 tahun. Lalu jadi pemimpin redaksi majalah WartaBisnis dan BisnisKita. Sambil terbenam dikejar deadline, kadang-kadang saya menyunting buku. Diantaranya adalah Sketsa 50 Eksekutif Indonesia (1997) dan

The Power of Value in the Uncertain Business World, Refleksi Herris B. Simanjuntak (2004)
Bersama Andrias Harefa, saya menulis buku (judul masih tentatif) Menjadi Entrepreneur Sejati, the Ciputra Way yang segera terbit

Juga kadang-kadang saya berdiri di depan para PR officer, untuk berceloteh tentang jurnalisme. Ini karena Pusat Kajian Komunikasi FISIP UI mencatat saya sebagai salah seorang associate mereka.

Kalau lagi santai, saya menghabiskan waktu bersama istri dan putri semata wayang berburu makanan etnik di sekitar tempat kami tinggal, di Vila Dago Tol Ciputat. Apa saja, yang penting murah dan pelayannya ramah.

Di kala seperti itu, di kala ada waktu berpikir, saya kerap merenung, kemana kelak semua apa yang pernah saya alami, yang indah dan yang pahit? Siapa yang akan mengabadikannya dan siapa yang akan menuliskannya? Anak saya sebelum tidur, selalu meminta saya mendongeng. Dan suatu kali saya bercerita tentang masa kecil di kampung halaman. Dia senang. Bahkan setelah itu, ia tak mau diceritai dongeng, melainkan hanya dan hanya tentang masa kecil saya di Sarimatondang.

Saya kira itu lah awal munculnya blog ini. Sarimatondang adalah yang terpikir pertama kali ketika saya ingin melukiskan apa yang selalu menjadi pengisi terdalam dari pikiran-pikiran saya. Sarimatondang begitu banyak memberi bekal. Dan semestinya itu dapat saya bagikan. Paling tidak buat putri saya di rumah. Kelak, ia tak perlu kesulitan mencari kampung halaman ayahnya. Yang mungkin masih akan lama lagi baru ada di peta.

Ini lah sepotong cerita tentang saya. Membosankan bukan?